Teknologi PLC (power line communication) sebagai alternatif komunikasi lewat jaringan listrik bukanlah barang baru. Salah satu anak perusahaan PLN, ICON+ berhasil mengujicobanya di komplek perumahan PLN di daerah Duren Tiga, Jakarta pada tahun 2003 lalu dan warga dapat mengakses layanan Internet kecepatan tinggi tanpa menanggung pulsa telepon yang banyak. Tapi mengapa banyak masyarakat yang belum tahu dan perkembangannya terkesan lamban?
Selama ini yang kita tahu kabel listrik hanya digunakan untuk menghidupkan lampu, televisi atau perangkat elektrik lainnya, tapi sebenarnya kabel listrik bisa digunakan untuk menelepon, menghubungkan komputer-komputer maupun browsing internet. Adalah teknologi PLC (power line communication) yang berhasil menggabungkan teknologi akses data berbasis IP dengan jaringan listrik.
Sebenarnya konsep menggunakan akses internet berkecepatan tinggi dengan memanfaatkan jaringan listrik bukan barang baru di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, dan Australia. Jauh sebelumnya, bahkan sudah ada upaya untuk mengimplementasikan teknologi ini. Namun sempat terhambat karena ketidakmampuan mengatasi solusi ekonomis dalam menyaring kadar noise listrik yang melekat pada kabel-kabel listrik.
Proses pemasangan PLC sangatlah mudah dan cukup murah karena infrastruktur jalur listrik dan stop kontak sudah pasti ada di setiap rumah. Anda hanya perlu membeli PLC adapter yang sudah mulai banyak dijual dengan harga yang terjangkau. Bila Anda rajin berkunjung ke pameran-pameran komputer, Anda sudah bisa menjumpai beberapa stan yang menawarkan alat ini.
PLC adapter ini bentuknya cukup praktis seperti adaptor pada umumnya yang ini harus dipasang pada stop kontak listrik biasa. PLC adapter ini memiliki keluaran ethernet yang harus dikoneksikan ke perangkat jaringan yang ingin terkoneksi seperti ethernet di notebook/PC. Kecepatan maksimal yang bisa diraih menggunakan teknologi ini kurang lebih mendekati kecepatan koneksi transmisi data menggunakan fiber optic, mulai dari 256 Kbit/s sampai 45 Mbit/s.
Namun sayangnya, kemudahan penggunaan PLC ini harus dibayar, dengan kerumitan dari sisi desain. Kerumitan inilah yang membuat perkembangan PLC sedikit lamban sehingga kalah bersaing dibandingkan dengan standar lain, seperti koneksi wireless.
Jalur listrik di setiap rumah memiliki sangat banyak noise. Noise ini memang tidak masalah bagi perangkat listrik, namun lingkungan yang sangat kotor ini tidaklah cocok untuk komunikasi data. Perangkat seperti motor listrik, lampu fluorescent, dan power supply switching biasanya menjadi faktor yang membuat jalur listrik menjadi penuh dengan noise. Perangkat seperti ini biasanya mengotori frekuensi listrik. Masalah noise ini sangat berpotensi mengganggu komunikasi data yang dilakukan via jalur listrik. Interferensi yang terlalu tinggi sangat mungkin membuat transmisi data gagal dilakukan atau menghasilkan banyak error.
Selain masalah noise, teknologi PLC juga dipengaruhi oleh desain dari infrastruktur jalur listrik yang ada. Jarak dari satu titik ke titik stop kontak lain juga akan mempengaruhi kualitas transmisi data. Belum lagi variasi impedansi dan beban dari setiap jalur.
Dasar kerja PLC adalah menggunakan frekuensi tinggi yang tidak digunakan untuk mengalirkan listrik. Jalur listrik umumnya menggunakan frekuensi 50-60 Hz untuk mengalirkan listrik. PLC akan menggunakan frekuensi yang lebih tinggi untuk mengirimkan data.
PLC menggunakan modulasi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) untuk mengirimkan data. Standar OFDM ini sangat populer baik di standar wireless (802.11a/g) maupun DSL. Ide dasar OFDM adalah membagi spektrum menjadi bagian-bagian kecil dengan kecepatan rendah. Sama seperti teknologi wireless, mengirim data via jalur listrik sama tidak amannya. Solusinya, standar PLC menggunakan enkripsi 56-bit Data Encryption Standard (DES) yang cukup memberikan kesulitan bagi para calon penyusup yang ingin menyadap data.
Cocok untuk Perumahan
Sistem PLC ini cukup menarik untuk digunakan di daerah-daerah perumahan. Karena membutuhkan koneksi ke infrastruktur jaringan Internet yang lebih sedikit. Sebab koneksi dilakukan dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan listrik yang telah ada. Agar terhubung ke jaringan Internet hanya diperlukan router PLC utama ke Internet (ISP) yang menggunakan wireless ataupun menggunakan leased line. Dari tiap rumah ke router PLC tersebut dapat digunakan PLC adapter/modem.
“Sebuah kota di Amerika Serikat, Manassas di West Virginia sudah mengaplikasikan teknologi PLC. Penduduk di kota tersebut dibebankan biaya koneksi “hanya” USD 30 per bulannya untuk koneksi non-stop selama 24 jam sehari dengan kecepatan 10 Mbit/s. Layanan ini efektif berlangsung sejak Oktober 2005Apabila router PLC dioperasikan oleh perusahaan penyedia jaringan listrik (misal di gardu-gardu listrik sekitar perumahan), maka ini dapat merubah perusahaan jaringan listrik juga menjadi penyedia jasa akses Internet.
ICON+ (PT Indonesia Comnets Plus), anak perusahaan PLN yang bergerak di bidang telematika ini sejak beberapa tahun lalu sudah mencoba merangkul pemanfaatan teknologi PLC untuk koneksi internet. Namun, sayangnya baru kalangan tertentu saja yang memanfaatkannya karena masih banyaknya kendala yang harus diatasi. Meski perkembangannya seakan berjalan di tempat ICON mencoba melangkah lebih maju, awal Maret 2006 lalu disepakati sebuah memorandum of understanding (MoU) antara PT Telkom dengan PLN sebagai induk ICON+. MoU tersebut, ujar Direktur ICON+, D. Rochkadar Sukada terkait dengan penggunaan infrastruktur kedua belah pihak dimana PLN bisa memanfaatkan jaringan listriknya menjadi jaringan telepon. Dalam MoU itu sudah tercakup soal pemanfaatan infrastruktur non-jaringan untuk co-location. “Misalnya, di gardu kami (PLN-red) bisa dijadikan terminal shelter untuk BTS (base transceiver station-red),” ia menyebutkan.
Dari sisi teknologi, ICON+ yang telah resmi mengantungi izin Internet Telepon untuk Keperluan Publik (ITKP) sejak Desember 2005 ini sudah sanggup menyediakan layanan telepon lokal berbasis kabel listrik dan teknologi Voice over Internet Protocols (VoIP). “Ya siap. Persiapannya? Kami sekarang tidak mau lagi memakai teknologi yang lama. Kami sekarang langsung masuk ke New Generation Network (NGN) dan IP Based Network. Tidak lagi memakai teknologi switching seperti yang ada saat ini,” ujar Rochkadar kepada wartawan seusai acara dialog nasional dan pergantian logo ICON+ di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (07/03/2006). Namun, dalam kesempatan yang sama, Rochkadar menyadari bahwa untuk memasuki bisnis telepon tetap, ICON+ mengaku masih belum bisa karena masih harus dipertimbangkan matang-matang oleh pemerintah.
Hanya Konsumen Tertentu
Beberapa ahli komunikasi memprediksikan bahwa teknologi ini akan menjadi standar komunikasi masa depan, minimal untuk berinternet. Karena untuk mengimplementasikan BPL relatif tidak diperlukan pembangunan jaringan fisik/infrastruktur yang khusus (bandingkan dengan teknologi kabel/wireline yang membutuhkan media kabel dan alat pemancar serta penerima sinyal data).
Meski demikian, ICON+ sebagai perusahaan yang sudah cukup lama bergerak di bidang ini mengakui bahwa penerapannya masih dalam tahap ujicoba sebab infrastruktur yang dibutuhkan masih sangat mahal. Hal ini disebabkan karena belum adanya jalur komunikasi yang digunakan antara gardu ke network provider. Artinya, harus terlebih dahulu dipasang fiber optic dari gardu ke network provider. Jika ini dilakukan, secara perhitungan cost-nya masih terlalu besar.
Dengan kondisi seperti ini, maka hanya konsumen-konsumen tertentu saja yang dapat memanfaatkan teknologi ini. Misalnya seperti perhotelan dengan density hunian yang tinggi, dimana banyak kalangan ekspatriat lebih membutuhkan akses internet cepat, disinilah ICON+ mengincar konsumennya. Ke depan, ICON+ berharap dapat menjual secara retail sehingga semua konsumen bisa memanfaatkan teknologi ini. MLP (Berita Indonesia 14)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Untuk sementara kolom komentar yang ini hanya untuk yang telah terdaftar saja! Kami telah menyediakan FORUM khusus untuk ajang komunikasi sekitar info-info usaha mandiri.